Peluncuran Buku, Bukti Dukungan LAPEKOM terhadap Kualitas Pendidikan di Parepare
ONEANEWS.com – Lembaga Pengkajian, Edukasi, Komunikasi dan Masyarakat atau LAPEKOM melaunching sekaligus melakukan Bedah Buku yang berjudul Membangun Parepare dengan Pendidikan Karakter yang digelar di Cafe Lagota Rabu (27/8/2025), pagi.
Bedah buku ini dipandu Tim Editor Buku, Dr Wawan Krismanto, Pemantik yaitu Ketua DPRD Parepare, Ir Kaharuddin Kadir, dan Pembicara yaitu Pembina Lapekom, Prof Dr Kamaruddin.
Turut hadir Wakil Wali Kota Parepare, Hermanto, Kepala Disdikbud Parepare, Kepala Kesbangpol, Kepala Dinas Perpustakaan, Kepala Kemenag Parepare, Rektor Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta.
Hadir pula Ketua Umum Lapekom, Zaid Zainal, Ketua Pembina Prof Amaluddin, beserta anggota, Pengawas Lapekom, dan para Pengurus Lapekom.
Pembicara, Kamaruddin menyampaikan catatan Bedah buku. Dia menyebutkan, teori weber bahwa kemajuan itu selalu diawali dengan kegelisahan. Kegelisahan terhadap absolutisme teknologi yg berpotensi menggerus otonomi epistemologis, identitas lokal, identitas nilai adab..
“Pendidikan masa depan yang kita harapkan menguatkan karakter, kompetensi dan literasi,” kata Kamaruddin.
Dia menjelaskan, seseorang bisa berubah karena 2 hal (pikirannya terbuka atau hatinya terluka), yang meliputi:
1. Zaman liminality belum berakhir masa yang lama sementara masa baru belum adaptif.
2. Apakah karakter itu bawaan atau dapat dibentuk, ( born and made) Karakter itu ditanam, disiram, dirawat, dijaga (oleh Kihajar dewantara sekolah sebagai taman siswa) karena di situlah karakter disemai, dikecambah. Kullu maulidin yuuladu.
3. Seseorang itu berubah karena 2 hal (pikirannya terbuka atau hatinya terluka).
4. Catur pusat pendidikan (sekolah, keluarga masyarakat dan media).
5. Knowledge based society.
6. Tinulu, atutu, lempu’ (sebagai karakter reso) Dua tellu tenri tangke’. Magetteng.
7. Karakter moral- karakter kinerja. ( Macca berpasangan warani, lempu’ berpasangan magetteng).
8. Orang jujur dapat dipertahankan tapi tidak cukup untuk promosi harus ada skill. (karakter baku).
9. Dalam kontestasi pemimpin ada 3 hal yang dipertimbangkan yaitu Perubahan (change), Harapan (Opportunity), dan Kesatuan (unity).
10. Knowledge based society (human investment, modernisasi informasi, iklim ekonomi yang sehat).
11. Arsitektur sosial Kota Parepare dengan lokus karakter keilmuan (berfikir kritis mengeksplorasi pengetahuan baru, adaptif terhadap perubahan) karakter moral-spiritual (kejujuran, bertanggungbjawab, empati) dan karakter kebangsaan (menjembatani kearifan lokal dengan kemajuan global).
12. Karakter BAKU.
Sementara, Wawali Parepare Hermanto menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Lapekom atas prakarsa penerbitan buku ini.
Menurutnya, karya tersebut dapat menjadi referensi penting bagi guru, tenaga pendidik, maupun orang tua dalam menanamkan pendidikan karakter pada anak.
“Pendidikan karakter bukan hanya tentang mengajarkan pelajaran di sekolah. Lebih dari itu, pendidikan karakter adalah fondasi utama dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas, empati, dan tanggung jawab,” ungkap Hermanto.
Hermanto menekankan, pendidikan karakter harus dimulai sejak dini agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang beretika, bermoral, berdisiplin, menghormati guru dan orang tua, serta memiliki kepekaan sosial.
Lebih lanjut, Hermanto mengajak para guru untuk tidak hanya berfokus pada capaian kurikulum dan nilai akademik, melainkan juga menanamkan karakter sebagai prioritas utama.
“Kami berharap semua pendidik dapat menerapkan pendidikan karakter di sekolah karena ini sangat menentukan masa depan anak-anak kita,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, Hermanto mengharapkan Lapekom terus berkarya dan berkontribusi dalam memajukan dunia pendidikan di Parepare.
Pemantik sekaligus Ketua DPRD Parepare, Kaharuddin Kadir mengapresiasi bedah buku tersebut dan mendorong para akademisi untuk terus berkontribusi terhadap pendidikan Parepare.
Ketua Umum Lapekom, Zaid Zainal menyebut, buku ini sebagai bentuk dalam membantu pemkot menyukseskan program di bidang pendidikan.
Akademisi UNM itu juga berharap apa yang tertuang dalam buku Lapekom ini bisa menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan terkait pendidikan.
“Ide-ide dari tulisan ini dapat dijadikan dasar penentu kebijakan untuk mengambil kebijakan-kebijakan yang lain terkait pendidikan. Apakah dari walikota atau kepala dinas, maupun kepsek,” harapnya.
“Harapannya kegiatan ini terus berjalan dan mendapat dukungan dari pemkot seperti saat ini,” Tambah Zaid.

Zaid menyebut dalam buku yang tersebut terdapat 23 penulis yang terlibat. Baik dari internal Lapekom maupun dari luar Lapekom, yaitu Akademisi praktisi pendidikan.
Adapun penulis Buku yaitu, Andi Abd. Muis, Abdul Rahman, Abdullah, Alfiansyah Anwar, Ali Wira Rahman & Rizka Indahyanti, Amaluddin, Andi Bahri S., Johansyah, Kamaruddin Hasan, Marhani, Muh Dahlan, Munandar Marzuki, Mustaqimah, Nuringsih, Nurlina Jalil, Parman, Pujiastuti, Salmiati, Sofyan, Umar, Wawan Krismanto, Zaid Zainal. Editor oleh Zaid Zainal, S.Pd.,M.Pd.,Ph.D., dan Dr. Wawan Krismanto. (*)
