Saat Gempa Datang, Refleks Menyelamatkan Nyawa Harus Sudah Terlatih
ONEANEWS.com – Bencana tidak pernah datang dengan pemberitahuan. Dalam hitungan detik, gempa bumi, kebakaran, atau kondisi darurat lainnya dapat mengubah situasi yang semula aman menjadi ancaman bagi keselamatan jiwa. Karena itulah, kesiapsiagaan bukan lagi sekadar pengetahuan tambahan, melainkan kebutuhan yang harus dimiliki setiap orang.
Hal ini menjadi pesan utama dalam kegiatan “Service Excelent Kanwil DJPb Provinsi Sulawesi Barat dan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Mamuju” yang bertema “Pelatihan Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana dan Evakuasi Darurat Gedung Bertingkat” yang menghadirkan pemateri dari Basarnas. Acara tersebut diselenggarakan di Gedung Keuangan Negara Mamuju pada hari Jum’at, 18 September 2026.
Kepala Kanwil DJPb Provinsi Sulawesi Selatan, Syakran Rudy, dalam sambutannya menyampaikan bahwa bencana dapat terjadi kapan saja tanpa dapat diprediksi. Oleh karena itu, kesiapsiagaan perlu menjadi bagian dari budaya kerja dan kebiasaan sehari-hari.
Pengalaman menghadapi gempa bumi di Mamuju maupun berbagai kejadian bencana lainnya menunjukkan bahwa keselamatan sangat ditentukan oleh tingkat kesiapan individu dalam merespons kondisi darurat.
Pemateri Agan Kalana, personel Basarnas yang pernah merasakan langsung peristiwa gempa dan tsunami Palu tahun 2018, menjelaskan bahwa bencana terjadi ketika suatu ancaman melebihi kapasitas manusia untuk menghadapinya. Karena itu, peningkatan kapasitas melalui edukasi, latihan, dan simulasi menjadi kunci untuk mengurangi risiko bencana.
Dalam sesi pelatihan, peserta diajak memahami berbagai potensi bahaya yang dapat terjadi di gedung bertingkat, mulai dari gempa bumi hingga kebakaran. Salah satu materi penting adalah langkah yang harus dilakukan saat gempa terjadi.
Berbeda dengan anggapan umum yang mendorong orang untuk segera berlari keluar gedung, peserta justru diingatkan untuk mencari perlindungan terlebih dahulu di bawah meja yang kokoh atau pada titik-titik aman bangunan sambil melindungi kepala dari kemungkinan reruntuhan.
Tidak hanya membahas langkah saat bencana terjadi, pelatihan ini juga menyoroti pentingnya kesiapsiagaan sejak sebelum bencana datang. Setiap individu dianjurkan memiliki tas siaga bencana yang berisi kebutuhan dasar seperti senter, baterai cadangan, obat-obatan, dokumen penting, dan perlengkapan darurat lainnya.
Pengalaman pada berbagai kejadian bencana menunjukkan bahwa gangguan komunikasi serta keterbatasan akses bantuan sering kali terjadi pada jam-jam pertama pascabencana.
Selain upaya penyelamatan diri, peserta juga mendapatkan materi mengenai teknik evakuasi dan pemindahan korban.
Materi yang dibawakan oleh Ibrahim dari Kantor SAR Mamuju menegaskan bahwa niat membantu saja tidak cukup.
Penyelamatan harus dilakukan dengan teknik yang benar agar tidak memperparah kondisi korban maupun mencederai penolong. Berbagai teknik pemindahan darurat seperti tarikan bahu, tarikan selimut, hingga teknik pemindahan korban saat kebakaran dipraktikkan langsung oleh peserta.
Pelatihan tersebut memberikan pelajaran penting bahwa keselamatan bukan hanya tanggung jawab petugas penyelamat. Setiap individu memiliki peran dalam melindungi dirinya, keluarga, dan lingkungan sekitarnya. Pengetahuan kebencanaan yang dipahami sejak dini dapat menjadi bekal berharga untuk menyelamatkan nyawa ketika situasi darurat benar-benar terjadi.
Pada akhirnya, kesiapsiagaan bukanlah tentang merasa takut terhadap bencana, melainkan tentang membangun kemampuan untuk merespons secara tepat ketika ancaman datang. Sebab, dalam situasi darurat, tindakan yang benar dalam beberapa detik pertama dapat menjadi pembeda antara keselamatan dan risiko yang lebih besar. (Rls)
