Smart Ekonomi dan Tantangan Manajemen Berkelanjutan di Kota Parepare
Oleh: Nur Indah (Mahasiswi S2 Manajemen di Institut Ilmu Sosial dan Bisnis)
ONEANEWS.com – Kota Parepare di Sulawesi Selatan tengah menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Parepare menyebutkan bahwa ekonomi kota ini tumbuh 4,46 % secara year-on-year pada Triwulan II 2025.
Sektor sekunder—yang mencakup industri dan konstruksi menjadi motor utama dengan pertumbuhan hingga 10,77 % dalam periode yang sama. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa Parepare memiliki potensi untuk mengembangkan smart economy yakni perekonomian yang mengandalkan digitalisasi, interkoneksi, dan efisiensi data, sebagai landasan manajemen pembangunan kota yang berkelanjutan.
Smart ekonomi di Parepare harus dimaknai tidak sekadar transformasi digital semata, melainkan pengorganisasian ulang ekosistem ekonomi lokal agar inklusif, tangguh, dan berkelanjutan. Salah satu langkah nyata yang sudah diambil adalah peluncuran Tani Smart Market oleh Pemkot Parepare pada Agustus 2025.
Program ini memungkinkan petani dan pelaku UMKM memasarkan produk lokal secara digital, memperluas akses pasar hingga ke konsumen di luar batas geografis kota. Inovasi ini memperlihatkan integrasi antara sektor pertanian lokal dan ekonomi digital, yang sangat relevan dalam konteks kota menengah seperti Parepare. Namun, membangun smart ekonomi menghadirkan berbagai tantangan manajerial.
Pertama adalah kapasitas data dan infrastruktur teknologi di tingkat pemerintahan daerah. Agar sistem digital dapat berjalan efektif, pemerintah kota perlu memiliki basis data yang akurat, sistem integrasi antar dinas, jaringan internet yang merata, dan pusat data (data center) lokal. Jika tidak, program digital hanya akan menjadi “hiasan” administratif yang mahal tetapi tidak produktif. Tantangan ini menjadi nyata bagi banyak kota di Indonesia, di mana disparitas konektivitas antara pusat kota dan pinggiran masih tinggi.
Kedua, tantangan berkelanjutan muncul dalam hal kesenjangan sosial-ekonomi. Bila teknologi hanya diakses oleh kelompok masyarakat tertentu (misalnya yang sudah melek digital atau memiliki modal), maka smart economy bisa memperparah ketimpangan. Pemerintah kota Parepare harus memastikan bahwa pelatihan digital, literasi keuangan digital, dan bantuan modal akses platform juga menjangkau kelompok petani kecil di pinggiran kota atau desa sekitar. Tanpa langkah penguatan inklusivitas, transformasi ekonomi akan timpang.
Ketiga, aspek keberlanjutan lingkungan harus menjadi bagian tak terpisahkan dari smart economy. Digitalisasi dan pertumbuhan ekonomi yang agresif bisa menimbulkan beban baru, peningkatan konsumsi energi, produksi limbah elektronik, dan tekanan terhadap sumber daya alam. Parepare harus merancang regulasi lokal yang mengatur pengelolaan limbah elektronik, efisiensi energi bangunan, dan insentif ekonomi untuk industri ramah lingkungan. Smart economy yang tidak memasukkan aspek lingkungan sesungguhnya bukan “smart” dalam makna jangka panjang.
Keempat, aspek kelembagaan dan tata kelola memainkan peran kunci. Pemerintah kota perlu menetapkan kontrak kinerja (key performance indicators / KPI) yang jelas untuk semua dinas terkait (perdagangan, pertanian, usaha mikro, teknologi, dan lingkungan). Hal ini penting agar eksekusi program digital bisa diukur dan dievaluasi secara berkala. Selain itu, kolaborasi lintas sektor dengan perguruan tinggi, komunitas lokal, swasta, dan lembaga keuangan perlu dikembangkan agar inovasi tidak stagnan dan dapat diadaptasi dengan kondisi lokal. Misalnya, mahasiswa dan institusi riset di Parepare bisa dilibatkan untuk menguji model pasar digital lokal atau optimasi logistik dari petani ke konsumen.
Akhirnya, “smart ekonomi” Parepare memiliki peluang besar bila dikelola dengan manajemen berkelanjutan yang matang. Tingginya pertumbuhan sektor sekunder menunjukkan momentum untuk mendorong investasi produktif. Program seperti Tani Smart Market membuktikan bahwa inovasi digital lokal bisa dimulai dari basis pertanian UMKM.
Tantangan akan datang dari data, inklusivitas, lingkungan, dan tata kelola. Bila semuanya dikelola dengan visi jangka panjang dan komitmen kelembagaan, Parepare bisa menjadi kota percontohan smart economy di Indonesia Timur, kota yang maju secara ekonomi sekaligus berkelanjutan dan adil bagi seluruh warganya. (*)
