Alasan Pengrajin Gunakan Kayu Jati Sebagai Bahan Baku Pembuatan Mebel dan Furnitur

Alasan Pengrajin Gunakan Kayu Jati Sebagai Bahan Baku Pembuatan Mebel dan Furnitur

ONEANEWS.com – Jati adalah sejenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Pohon besar, berbatang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi 50-70 meter.

Kayu jati umumnya digunakan pengrajin dalam membuat furnitur atau mebel, sebab jati merupakan kayu yang kuat dan awet.

Pembuatan furnitur dan mebel dari kayu melewati proses yang lumayan panjang. Kayu didapat dari pohon yang ditebang. Setelah penebangan dilakukan, kayu kemudian diukur dan dipotong kembali sesuai dengan ukuran furnitur yang akan dibuat.

Kayu kemudian dirakit menjadi produk furnitur atau mebel seperti meja, kursi, lemari atau produk lainnya. Setelah dirakit, baru furnitur tersebut masuk tahap finisihing seperti penghalusan menggunakan amplas hingga pengecatan dan kemudian baru dijual atau dipakai.

Meskipun ada beberapa jenis kayu yang biasa digunakan sebagai bahan baku furnitur dan mebel seperti jati, pinus, mahoni, hingga jati belanda. Namun, yang paling sering ditemui adalah kayu jati.

Kayu jati dianggap sebagai kayu yang terbaik karena lebih kuat dan tahan lama. Sehingga mebel atau furnitur yang dibuat dari kayu ini punya kualitas dan ketahanan yang lebih baik dibanding yang lain.

Dikutip dari Binus.ac.id yang ditulis oleh Wahyu Waskito Putra, Kayu Jati (Teak: bahasa inggris) juga mempunyai nama ilmiah yang bagus, yakni Tectona Grandis. Kayu jati berwarna coklat agak kekuning-kuningan dan banyak ditemukan di pulau Jawa dan juga Sulawesi.

Meskipun ada di Sumatera dan Kalimantan, kayu jati tidak bisa tumbuh maksimal karena kandungan tanah di kedua pulau tersebut mempunyai tingkat keasaman yang tinggi.

Dalam industri mebel dan furnitur, kayu jati menjadi primadona. Bisa dikatakan salah satu jenis kayu premium. Kayu jati butuh waktu hingga puluhan tahun untuk bisa digunakan sebagai bahan mebel atau furnitur.

Faktor usia inilah salah satu yang mempengaruhi harga kayu jati menjadi mahal. Selain itu karena faktor supply and demand, banyak yang cari, tapi stok terbatas.

Kayu jati lebih awet dibandingkan dengan kayu lainnya karena memiliki kandungan minyak alami dalam jumlah banyak. Meskipun begitu, ini juga menjadi kelemahan kayu jati.

Karena memiliki kandungan minyak alami banyak, kayu jati tidak cocok menggunakan finishing solid warna cerah seperti putih, merah, hijau, dll.

Karena lama-kelamaan akan mengeluarkan minyak alami yang akan menimbulkan bekas noda menjadi warna kekuning-kuningan pada perabot furnitur.

Untuk warna solid gelap seperti hitam atau coklat, noda hasil minyak alami masih bisa ditolerir, namun jika diperhatikan secara detail, tetap mengganggu keindahan.

Kayu jati cocok digunakan untuk sebagian besar jenis produk furnitur, namun yang perlu diperhatikan adalah jenis finishingnya tadi.

Gunakan finishing warna natural, selain menghindari kesan noda, warna natural akan memunculkan guratan serat alami yang cantik.

Justru ini yang dicari pecinta mebel. Munculnya serat bisa menjadi nilai tambah atau kepuasan tersendiri bagi mereka.

Selain itu, kayu jati termasuk tipe kayu keras. Ini menjadi kelebihan kayu jati karena tidak mudah rusak jika terkena benturan. (*)

 

Bagikan artikel ini ke :