Mahasiswa Jurnalistik Islam IAIN Parepare Ubah Kegelisahan Menjadi Prestasi di Lomba Puisi Nasional
ONEANEWS.com – Menulis puisi bagi sebagian orang adalah cara untuk meluapkan perasaan yang tidak tersampaikan lewat lisan. Hal ini pula yang dirasakan oleh seorang mahasiswa Program Studi Jurnalistik Islam, IAIN Parepare, Luthfiyani Mansur yang berhasil meraih Juara 2 Kategori Lomba Puisi dalam ajang Lomba Seni Sastra Indonesia yang diselenggarakan oleh Penerbit Aksara Pilar Nusantara.
Berawal dari kebiasaan menulis di buku catatan dan aplikasi notes pada ponsel, ia berhasil membuktikan bahwa karya yang selama ini tersimpan rapat mampu bersaing di tingkat nasional.
Bagi sang mahasiswa, terjun ke dunia sastra bukanlah hal baru. Sejak duduk di bangku SMP, ia telah terbiasa membaca novel dan menulis puisi sebagai sarana berekspresi. Ia mengaku bukan tipe orang yang mudah bergaul atau berkomunikasi secara lisan dengan orang lain.
“Dengan puisi, saya cukup merasa puas mampu merangkai kata yang indah untuk mengungkapkan apa yang saya pikirkan,” ujarnya saat menceritakan motivasinya mengikuti perlombaan tersebut.
Kemenangan ini menjadi sangat spesial karena merupakan kali pertama ia memberanikan diri mempublikasikan karyanya setelah sebelumnya hanya tersimpan di catatan pribadi.
Dalam kompetisi bertema bebas tersebut, ia mengirimkan karya berjudul “Barangkali Lupa”. Puisi ini mengangkat tema tentang kefanaan hidup dan bagaimana manusia kerap melupakan kematian.
Inspirasi utamanya berakar dari kalimat Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Ia menggambarkan tiga tahapan mutlak dalam kehidupan manusia, seperti lahir-hidup-mati, lapar-kenyang-mati, hingga bertemu-mencinta-lalu mati.
Latar belakang pendidikan di pondok pesantren selama tiga tahun turut memengaruhi gaya kepenulisannya. Ia mengaku senang menggunakan simbol-simbol Islami untuk memperdalam makna dan memperindah diksi dalam setiap bait yang diciptakan.
Sebagai mahasiswa Jurnalistik Islam, ia menghadapi tantangan unik dalam membedakan gaya penulisan berita yang faktual dengan puisi yang penuh metafora. Ia harus pandai menyeimbangkan antara “mode reporter” dan “mode penyair”.
“Satu hal yang saya sadari, meski berbeda jauh, menulis puisi dan berita tetap membutuhkan satu hal yang sama, yaitu kepekaan seorang penulis,” tuturnya.
Dukungan dari lingkungan kampus, terutama rekan sesama pencinta literasi dan kakak tingkat di prodi Jurnalistik Islam, menjadi faktor penting yang membuatnya berani melangkah ke ranah kompetisi.
Setelah meraih posisi kedua, ia tidak ingin berhenti begitu saja. Ke depannya, ia menargetkan untuk menciptakan karya yang lebih baik, tidak hanya dalam bentuk puisi tetapi juga novel.
Ia juga berencana membukukan kumpulan puisi dan novel yang telah ditulisnya selama beberapa tahun terakhir agar bisa dinikmati oleh khalayak luas.
Menutup percakapan, ia membagikan resep sederhana bagi siapa saja yang ingin mulai menulis. “Tiada saran dan tips yang lebih baik untuk menulis selain banyak-banyak membaca dan lebih peka terhadap suasana di sekitar,” pungkasnya.
Selain menjadi juara 2 lomba tulis puisi seni sastra Indonesia, Luthfiyani Mansur anak dari ibu Satriani ini menjadi salah satu penulis terpilih dalam event lomba puisi batch 13 volume 3 dari Halo Penyair. (Rls)
