Mahasiswa sebagai Agen Perubahan dalam Mewujudkan Manajemen Berbasis Cinta dan Kepedulian

Mahasiswa sebagai Agen Perubahan dalam Mewujudkan Manajemen Berbasis Cinta dan Kepedulian
Tzaza Aulia Syafirah

Oleh: Tzaza Aulia Syafirah (Mahasiswi S2 Manajemen di Institut Ilmu Sosial dan Bisnis) 

ONEANEWS.com – Dalam konteks Indonesia yang tengah menghadapi berbagai tantangan sosial, politik, dan ekonomi, peran mahasiswa sebagai agen perubahan menjadi sangat strategis. Sebagai kelompok yang relatif terdidik dan idealis, mahasiswa memiliki potensi besar untuk memformulasikan dan menggerakkan gagasan manajemen yang berbasis cinta dan kepedulian terhadap rakyat.

Hal ini sangat relevan di tahun 2025 ketika kebijakan anggaran negara mengalami efisiensi masif melalui Inpres Nomor 1 Tahun 2025, yang memotong sekitar Rp 306,69 triliun dari anggaran nasional dan daerah. Potongan tersebut memicu kritik luas, termasuk dari kalangan mahasiswa yang menilai bahwa pengurangan ini bisa berdampak buruk terhadap layanan publik dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam situasi seperti ini, mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton, melainkan harus hadir sebagai suara moral dan inovator kebijakan yang menunjukkan bahwa manajemen berbasis cinta yaitu pendekatan yang mengutamakan empati, keadilan, dan perhatian terhadap kesejahteraan dapat menjadi arah baru dalam tata kelola institusi publik dan swasta.

Mahasiswa sebagai agen perubahan harus mampu memberikan contoh konkret bahwa kepedulian bukan sekadar slogan, tetapi dapat diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. Pada Februari 2025, puluhan kampus secara simultan menggelar aksi “Indonesia Gelap” sebagai bentuk protes terhadap kebijakan efisiensi anggaran yang dianggap “gelap” terhadap masa depan rakyat.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan 13 tuntutan, antara lain agar pemerintah mencabut Inpres Efisiensi dan mengembalikan dukungan penuh terhadap sektor pendidikan serta kesehatan publik. Gerakan ini menunjukkan bahwa mahasiswa bisa menyuarakan kepedulian publik secara terorganisir dan kolektif, langkah yang selaras dengan prinsip manajemen berbasis cinta: mendengarkan pihak yang terpinggirkan dan memperjuangkan keadilan institusional.

Lebih jauh, mahasiswa juga bisa menjadi pionir dalam mengimplementasikan inovasi sosial di tingkat lokal. Misalnya, di kampus Institut Andi Sapada, menyelenggarakan program pengabdian masyarakat yang terintegrasi: pendampingan literasi keuangan, pelatihan digital marketing, dan pelatihan kewirausahaan mikro.

Lewat kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya “menolong dari luar,” tetapi membangun kemitraan dengan warga lokal, memahami apa yang mereka butuhkan, dan merancang intervensi yang berkelanjutan. Model ini memperlihatkan bahwa manajemen tidak selalu harus dilakukan dari atas ke bawah, melainkan dengan pola kolaboratif dan kasih sayang yang menghargai martabat warga.

Namun, kiprah mahasiswa juga menghadapi tantangan besar, yaitu potensi konflik dan represi. Salah satu kejadian nyata terjadi pada malam 1–2 September 2025, saat aksi protes nasional berlangsung dan kampus Universitas Islam Bandung (UNISBA) serta Universitas Pasundan (UNPAS) menjadi lokasi bentrokan antara massa demonstran dan aparat kepolisian.

Aparat menembakkan gas air mata ke sekitar kawasan kampus, dan mahasiswa melaporkan dampak langsung terhadap fasilitas medis kampus yang juga menjadi tempat evakuasi massa. Insiden ini menjadi pengingat pahit bahwa ketika mahasiswa bergerak dengan niat perubahan dan kepedulian, mereka dapat terkena tekanan struktural yang besar.

Tetapi itulah arti menjadi agen perubahan: keberanian untuk menanggung risiko demi memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah kekuatan yang kadang keras.

Dalam perspektif manajemen berbasis cinta dan kepedulian, mahasiswa perlu mempersenjatai diri dengan kecerdasan emosional, literasi publik, dan kemampuan advokasi yang baik. Mereka harus mampu merumuskan solusi kebijakan yang mempertimbangkan aspek manusia, bukan hanya efisiensi angka.

Misalnya, ketika pemerintah mengusulkan pemangkasan subsidi di sektor pangan atau kesehatan, mahasiswa dapat melakukan studi dampak terhadap golongan miskin, lalu mengajukan alternatif manajemen fiskal yang tetap menjaga kesejahteraan. Peran sebagai “mitra kritis namun konstruktif” menjadi sangat penting agar aspirasi tidak hilang dalam retorika protes yang hanya bersifat reaktif.

Lebih jauh, untuk memastikan transformasi jangka panjang, mahasiswa harus membangun jejaring dengan institusi publik, lembaga swadaya masyarakat, dan media. Kolaborasi ini memungkinkan gagasan manajemen berbasis cinta & kepedulian masuk ke ranah kebijakan praktis.

Contohnya, beberapa organisasi mahasiswa telah aktif bermitra dengan pemerintahan desa melalui program Merdeka Belajar sebagai mitra pelatihan guru dan peningkatan kualitas pendidikan dasar. Dengan demikian, suara mahasiswa tidak hanya terdengar di jalan, tetapi juga hadir di ruang perencanaan kebijakan.

Akhirnya, menjadi agen perubahan berarti mahasiswa menginternalisasi nilai cinta dan kepedulian ke dalam gaya kepemimpinan mereka sendiri, baik di kampus, organisasi kemahasiswaan, maupun proyek sosial. Dengan sikap jujur, empati, dan keberanian bertindak untuk yang lemah, mahasiswa bisa menjadi model manajemen baru yang menyatukan efisiensi dengan keadilan.

Bila generasi muda ini terus bersuara, bekerja, dan bermitra, maka cita-cita manajemen berbasis cinta bukanlah utopis belaka, melainkan pijakan menuju Indonesia yang lebih manusiawi dan inklusif. (*)

Bagikan artikel ini ke :